Kalteng

Wali Kota Palangka Raya Ungkap Kendala Penanganan Karhutla, Akses ke Titik Api Jadi Tantangan

​​​Palangka Raya - Pemerintah Kota Palangka Raya terus meningkatkan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah kondisi kebakaran yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

Wali Kota Palangka Raya, Fairid Naparin, mengatakan peningkatan status penanganan menjadi salah satu upaya untuk mempercepat penanganan karhutla, termasuk dalam memperoleh dukungan dan bantuan dari pemerintah pusat melalui BNPB.

Menurutnya, kondisi geografis Palangka Raya menjadi salah satu kendala utama dalam proses pemadaman. Sejumlah titik api berada di lokasi yang sulit dijangkau kendaraan maupun peralatan pemadam.

“Kalau untuk titik api, yang agak susah itu mobilisasinya. Peralatan sudah ada, tetapi ketika lokasi benar-benar jauh dan aksesnya tidak ada, menjadi kendala,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pembuatan sumur bor sebenarnya dapat menjadi salah satu alternatif untuk mendapatkan sumber air.Namun, persoalan berikutnya adalah bagaimana membawa mesin dan peralatan pemadam menuju lokasi yang jauh serta memiliki kondisi tanah yang cukup sulit.

Karena itu, pemerintah juga mempertimbangkan pemanfaatan teknologi lain, termasuk penggunaan drone untuk membantu memantau maupun menangani titik-titik karhutla yang sulit dijangkau.

Namun, pemanfaatan teknologi tersebut tentunya membutuhkan dukungan anggaran. Terlebih, kondisi fiskal daerah saat ini juga menjadi salah satu pertimbangan pemerintah dalam menentukan langkah penanganan.

Farid menyebutkan, penanganan karhutla di Palangka Raya dilakukan dengan membagi fokus berdasarkan wilayah. Tim pemerintah kota bersama relawan diperkuat personel dari TNI dan Polri, terutama di kawasan yang berbatasan langsung dengan taman nasional.

“Tipologinya ada kota, desa, dan hutan. Di perbatasan yang langsung dengan taman nasional memang cukup sulit,” jelasnya. Ia menambahkan, berdasarkan data pemerintah kota, luas lahan yang terbakar di wilayah Palangka Raya telah mencapai sekitar 510 hektare.

Meski demikian, kondisi penanganan mulai menunjukkan perkembangan. Setelah sebelumnya kabut asap cukup tebal hingga mengganggu aktivitas penerbangan, kondisi dalam beberapa hari terakhir mulai membaik sehingga jarak pandang berangsur meningkat.

Pemerintah Kota Palangka Raya juga terus memantau kualitas udara, jarak pandang, serta kondisi karhutla sebagai bahan evaluasi kebijakan, termasuk terkait aktivitas pembelajaran bagi para pelajar.

Farid menegaskan, keputusan terkait pembelajaran akan tetap mempertimbangkan indikator kondisi udara dan keselamatan siswa, sehingga kebijakan yang diambil dapat menyesuaikan perkembangan kondisi karhutla dan kabut asap di Palangka Raya.

(Era Suhertini)

You can share this post!

0 Comments

Leave Comments