Palangka Raya - Dewan Pengurus Pusat Asosiasi Bawi Dayak, Budaya dan Wisata Kalimantan Tengah (ASBADATA Kalteng) turut mendampingi proses mediasi yang difasilitasi Dewan Adat Dayak (DAD) Kota Palangka Raya terkait persoalan yang berkembang di media sosial dan melibatkan pemilik akun Facebook serta TikTok Zhe Zhe Galuh.
Pertemuan yang berlangsung di Aula Kecamatan Pahandut, Kota Palangka Raya, Senin (22/6/2026), merupakan tindak lanjut atas laporan dan pengaduan yang disampaikan oleh Ius Eka Praptani Asi.
Mediasi tersebut dihadiri unsur Dewan Adat Dayak, Damang Pahandut, ASBADATA Kalteng, serta pihak-pihak yang terkait.
Dalam kesempatan itu, Zhe Zhe Galuh mengaku menerima berbagai masukan, edukasi, serta arahan dari para tokoh adat terkait sejumlah unggahan yang sempat viral di media sosial.
Menurutnya, persoalan yang berkembang bermula dari polemik mengenai produk Bika Ambon yang kemudian memicu berbagai komentar dan hujatan di media sosial hingga meluas ke berbagai persoalan lainnya.
"Masalah ini sebenarnya merembet ke mana-mana.
Awalnya dari persoalan Bika Ambon, kemudian banyak komentar dan hujatan sehingga berkembang semakin luas," ujar Zhe Zhe Galuh.
Ia juga menyatakan siap memenuhi panggilan lanjutan yang dijadwalkan pada pekan depan apabila diperlukan oleh pihak Dewan Adat Dayak maupun Damang setempat."Saya akan hadir, Kalau memang ada kesalahan dalam ucapan atau postingan saya, lebih baik saya mengakui dan memperbaikinya," katanya.
Zhe Zhe Galuh menegaskan dirinya menerima proses mediasi tersebut sebagai pembelajaran agar lebih berhati-hati dalam menggunakan media sosial ke depannya. Ia juga berkomitmen menghapus sejumlah unggahan yang dianggap menjadi pemicu polemik dan kegaduhan di masyarakat.
"Saya akan menghapus postingan-postingan yang menimbulkan kegaduhan. Namun untuk konten pribadi yang tidak terkait persoalan tersebut tetap menjadi bagian dari aktivitas media sosial saya," jelasnya.
Sementara itu, Damang Kecamatan Pahandut, William, mengatakan pertemuan tersebut menjadi momentum penting untuk mengingatkan masyarakat agar lebih bijak dalam menggunakan media sosial.
"Ini merupakan pertemuan yang sangat berharga bagi kami. Semua pihak sudah hadir dan berdiskusi dengan baik sehingga permasalahan yang berkembang dapat diselesaikan secara kekeluargaan," ujarnya.
William menegaskan bahwa pada prinsipnya tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan apabila seluruh pihak mengedepankan dialog dan musyawarah. Ia berharap tidak ada lagi perselisihan maupun dendam di kemudian hari.
Sebagai bagian dari proses perdamaian, pihak kedamangan bersama Dewan Adat Dayak Kota Palangka Raya berencana melaksanakan prosesi tepung tawar sebagai simbol persaudaraan dan berakhirnya kesalahpahaman di antara pihak-pihak yang terlibat.
"Kami ingin menegaskan bahwa mereka adalah saudara. Tidak ada lagi permusuhan, tidak ada lagi dendam. Semua diselesaikan dengan semangat persaudaraan dan falsafah Huma Betang," tegas William.
Menurutnya, Dewan Adat Dayak bersama institusi kedamangan merasa perlu segera mengambil langkah penyelesaian agar polemik yang berkembang di media sosial tidak semakin meluas dan menimbulkan kegaduhan di tengah masyarakat.
"Kami berharap bukan hanya Zhe Zhe Galuh, tetapi seluruh masyarakat Kota Palangka Raya dapat lebih bijak dan beretika dalam menggunakan media sosial. Hidup rukun dalam bingkai Huma Betang adalah harapan kita bersama," pungkasnya.
(Era Suhertini)
0 Comments